WELCOME...............!!!!

^_^ AINI PLANOLOGI'S BLOG ^_^
JAGALAH BUMI KITA DARI TANGAN-TANGAN MANUSIA TAK BERTANGGUNG JAWAB
Loading...

Minggu, 30 Mei 2010

SUTAINABLE TRANSPORTATION (Transportasi Berkelanjutan)

A. Terminologi Sustainable transportation
Perencanaan wilayah yang baik merupakan perencanaan yang mempunyai tujuan membentuk wilayah yang sustainable development. Namun, dalam tahap perencanaan menuju sustainable development ini terdapat beberapa masalah signifikan yang selalu menjadi hambatan di beberapa wilayah bahkan negara sekalipun. Salah satu aspek yang memiliki banyak masalah yaitu transportasi. Transportasi merupakan usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut atau mengalihkan suatu objek dari suatu tempat ke tempat lain dimana di tempat lain ini objek tersebut lebih bermanfaat atau dapat berguna untuk tujuan-tujuan tertentu (Miro, 2005).
Hampir semua wilayah di Negara Indonesia masih memiliki masalah di bidang trasnportasi terutama transportasi darat. Timbulnya banyak masalah tersebut membuat pemerintah dan para ahli tranportasi di Indonesia berusaha mencari solusi akan masalah yang ada. Pemerintah dan para ahli berusaha belajar mengenai suatu konsep transportasi yang telah berhasil di negara lain, seperti di Negara Curitiba. Negara tersebut memiliki sistem tranportasi yang cukup berhasil sehingga mempengaruhi perkembangan bidang lainnya, seperti komersial dan industri dan tata kotanya pun menjadi lebih baik dan teratur.
Konsep yang digunakan adalah sustainable transportation. Konsep ini telah banyak diterapkan di negara-negara maju maupun berkembang dan cukup berhasil menangani permasalahan transportasi. Hal inilah yang sedang dipelajari oleh pemerintah dan ahli transportasi di Indonesia mengenai keberhasilan penerapan konsep ini di negara luar. Meskipun secara umum konsep ini telah berhasil diterapkan di beberapa Negara, namun sampai saat ini definisi dari transportasi berkelanjutan atau sustainable transportation ini belum juga selesai dibahas oleh para ahli di dunia.
Sustainable transportation berawal dari kata sustainability. Berdasarkan opini The UK government’s 1998 policy (Detr, 1998) pengertian sustainability adalah:
• Perkembangan sosial yang mengenal dan mengetahui kebutuhan setiap orang
• Perlindungan yang efektif terhadap lingkungan dan meminimalisir pengaruh global.
• Efisiensi dalam penggunaan SDA, dan
• Biaya tinggi dan kestabilan pertumbuhan ekonomi dan tenaga kerja.
Pendapat lain juga dikemukakan oleh beberapa ahli. Menurut ryan (2003) sustainability dapat diartikan sebagai
‘good’ things that must grow in the future (like jobs, productivity, wages, profits, capital and savings, information, knowledge and education) and the ‘bad’ things that must not grow in the future (like pollution, waste, poverty, energy and material use per unit of output
Sesuatu atau hal baik yang harus tumbuh di kehidupan mendatang (seperti pekerjaan, produktivitas,gaji, keuntungan, modal dan tabungan, informasi, pengetahuan dan pendidikan) dan hal buruk yang tidak boleh berkembang di masa yang akan datang (seperti polusi, pemborosan, kemiskinan, energy dan material yang digunakan setiap kesatuan.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan jika sustainability merupakan upaya pemanfaatan SDA dengan tidak mengesampingkan aspek ekonomi sosial dan lingkungan. Tiga pilar ini harus seimbang agar tercipta sustainable development sehingga semua hal baik juga bisa dinikmati nukan hanya saat ini tetapi juga masa datang untuk para generasi. Keseimbangan antara ekonomi, sosial dan lingkungan tersebut juga berlaku bagi konsep sustainable transportation. Jadi, apa definisi dari sustainable transportation sebenarnya?
Berbagai ahli transportasi dunia banyak mengeluarkan pendapat mengenai definisi transportasi berkelajutan ini. Menurut The centre of sustainable transportation Canada(2002, 1) definisi sustainable transportation adalah
 Memberikan akses utama/dasar yang dibutuhkan oleh individu dan masyarakat agar keamanannya lebih terjaga dan cara yang sesuai dengan manusia dan kesehatan ekosistem, dan dengan keadilan dalam dan antar generasi
 Dapat menghasilkan, mengoperasikan secara efisien. Memberikan pilihan moda trasportasi dan mendukung pergerakan aspek ekonomi.
 Membatasi emisi, dan pemborosan dalam kemampuan planet untuk menyerapnya, meminimalkan penggunaan sumber daya yang tidak bisa diperbarui, membatasi penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui agar kualitasnya tetap terjaga.menggunakan dan memperbarui bagian-bagiannya, dan meminimalkan penggunaan lahan dan produksi yang menyebabkan kegaduhan.

Sedangkan berdasarkan Brundtland Commission dalam CAI-Asia (2005: 11) definisi dari sustainable transportation dapat diartikan sebagai kumpulan kegiatan transportasi bersama dengan infrastruktur yang tidak meninggalkan masalah atau biaya-biaya untuk generasi mendatang guna menyelesaikannya dan menanggungnya. Definisi yang lebih resmi telah lebih awal dikeluarkan oleh the world bank (1996) yang menyatakan secara konseptual, sustainable transportation adalah transportasi yang melayani tujuan utama sebagai penggerak ekonomi wilayah perkotaan dan perkembangan sosial.
Pendapat yang dikemukakan oleh Brundtland Commission mengenai trasnportasi berkelanjutan lebih ditekankan kepada penggunaan moda transportasi dan infrastruktur transportasi lainnya yang bekerja secara bersama-sama untuk memperlancar kegiatan trasnportasi tersebut. Namun, kegiatan tersebut tidak boleh meninggalkan masalah bagi generasi mendatang. Misalnya saja, polusi dan ketersediaan ruang public untuk masyarakat. Konsep inilah yang diterapkan pemerintah Bogota dalam bidang trasnportasi di negaranya. Pemerintah Bogota telah memperbaiki infrastruktur transportasi untuk memperlancar kegiatan transportasi, namun hal itu telah dirancang sedemikian rupa sehingga dilakukanlah pemisahan jalur antara kendaraan umum dan pribadi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kemacetan dan emisi kendaraan di satu tempat. Selain itu ruang public di Bogota juga ditambah di beberapa titik. Semua itu dilakukan agar generasi mendatang tidak menanggung permasalahan transportasi yang tentunya akan bertambah mengingat pengguna kendaraan pribadi akan semakin banyak tiap tahunnya. Ruang publik juga disediakan agar masyarakat masa sekarang dan akan datang juga bisa menikmati ruang publik itu untuk berbagai kegiatan.
Lain halnya dengan definisi yang dikeluarkan oleh the world bank (1996) yang lebih menekankan pada kegiatan transportasi dalam konsep sustainable transportation pada aspek ekonomi wilayah dan perkembangan sosial. Sistem transportasi dalam konsep ini di terapkan untuk memperlancar kegiatan perekonomian di wilayah tersebut. kegiatan ekonomi bisa maju jika didukung oleh transportasi yang baik pula. Trasnportasi ini bisa memperlancar dalam hal produksi ataupun pemasaran ke konsumen. Selain itu transportasi yang dimaksud oleh the world bank(1996) itu juga bisa mengembangkan tingkat sosial masyarakat. Jika sustainable transport bisa diterapkan dengan baik, atau dalam kasus ini masyarakat banyak yang beralih menggunakan angkutan massa atau MRT maka kesenjangan sosial yang ada akan sedikit demi sedikit menghilang.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut terdapat point-point yang sama dalam penerapan system transportasi meskipun pengungkapannya berbeda. Kesamaan point penting dari definisi-definisi tersebut, yaitu
a. Kegiatan transportasi yang mengutamakan keselamatan dan kenyaman pemakai atau masyarakat. Hal ini mengingat jalan ataupun infrastruktur trasnportasi lainnya dibuat untuk manusia bukan untuk kendaraan. Jadi kenyamanan manusia umum harus diutamakan.
b. Semua kegiatan transportasi harus dilakukan secara efisien dan efektif baik untuk pemakai kendarannya ataupun bahan bakar yang digunakan. Selama ini kendaraan pribadi rata-rata setiap harinya hanya berisi satu orang. Jadi jika satu orang itu dialihkan untuk menggunakan kendaraan umum, maka bisa dibayangkan berapa banyak bahan bakar yang akan tersimpan dan berapa banyak kemacetan dan emisi kendaraan yang akan berkurang.
c. Tiga pilar penting transportasi, yaitu ekologi, ekonomi dan sosial harus seimbang. Kegiatan transportasi dalam konsep sustainable transportation harus bisa menyeimbangkan semua aspek tersebut.
d. Trasnportasi bukan hanya bisa dinikmati masa sekarang, namun juga untuk masa yang akan datang.
e. Penggunaan transportasi yang ramah lingkungan.

B. Visi dan Misi Sustainable transportation
. Dewasa ini, pemerintah sedang gencar-gencarnya mensosialisasikan dan berusaha merealisasikan konsep sustainable transport. langkah awal permerintah, yaitu dengan pembuatan busway di Indonesia untuk pemenuhan kebutuhan transportasi terutama di kota dengan jumlah penduduk yang cukup padat. Sedangkan realisasi dari konsep sustainable transport lainnya masih dalam rencana, salah satunya yaitu mono rail. Rencana perbaikan sistem Kereta Api Indonesia dengan perencanaan monorail sebenarnya telah disampaikan beberapa tahun lalu, namun sampai saat ini hal tersebut belum terealisasikan.
Berdasarkan contoh kasus sederhana tersebut, konsep Sustainable transportation ini memang sangat tepat dijadikan solusi dalam pemecahan permasalahan transportasi di Indonesia. Konsep ini juga telah banyak berhasil di terapkan di negara maju lainnya sehingga pemerintah dan masyarakat Indonesia bisa belajar banyak akan keberhasilan konsep tersebut. Keberhasilan di negara-negara ini juga didukung dengan adanya visi yang baik dan tepat. Menurut the centre for sustainable Transportation (2002) visi dari sutainable transport adalah:
• Focus an access: dalam sustainable transportation harus memperhatikan pengguna trasnportasi, baik akses terhadap barang, jasa dan peluang sosial terutama pada pengguna/masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.
• Non-motorized transportation: semakin banyaknya kendaraan bermotor membuat masyarakat jenuh akan kepadatan jalan raya dan polusi yang dikeluarkan setiap harinya. Sehingga berjalan, bersepeda, rollerblade dan moda transportasi non-motorized lainnya lebih dipilih masyarakat karena lebih menyenangkan dan ramah lingkungan.
• Motorized transportation by current means: transportasi bermotor saat ini mirip dengan transportasi pada tahun 2000 awal, namun kendaraan yang digunakan pada sustainable transportation saat ini jauh lebih hemat dalam mengeluarkan energi. Selain itu, penggunaan kendaraan tersebut juga harus didukung oleh tata letak dan desain tata ruang kota.
• Motorized transportation by potential means: beberapa akses transportasi saat ini menggunakan teknologi yang berbeda. Bahan bakar yang digunakan menggunakan bahan bakar terbarukan, seperti sumber daya hydrogen yang dihasilkan dari energy surya, sistem transportasi jalan raya otomatis, layanan kereta api maglev.
• Movement of goods: Pergerakan barang menggunakan moda transportasi harus sesuai dengan ukuran dan jarak pengiriman dan harus meminimalkan emisi yang dihasilkan.
• Less need for movement of people and goods: jarak tempuh kendaraan bermotor lebih pendek misalnya dengan adanya compact city, sehingga akses ke setiap fungsi guna lahan bisa dicapai dengan jarak yang lebih dekat.
• Little or no impact on the environment and on human health: emisi kendaraan lebih rendah serta tidak adanya dampak global transportasi terhadap lingkungan sehingga masyarakat tidak khawatir jika pengaruh transportasi akan mengganggu kesehatan mereka lagi.
• Methods of attaining and sustaining the vision: harus diadakannya kebijakan yang ketat akan penerapan sustainable transportation.
• Non-urban areas: daerah pedesaan bisa memberi kontribusi positif terhadap transportasi perkotaan.
• Date of attainment: adanya target waktu baik jangka panjang ataupun pendek.
Berdasarkan visi sustainable transportation yang harus dicapai, maka diperlukan adanya upaya atau misi dalam pencapaian visi tersebut. Mengingat transportasi terdiri dari tiga pilar penting, yaitu sosial, lingkungan dan ekonomi, maka upaya menuju sustainable transportation harus meliputi ketiga pilar tersebut juga. Jadi, bagaimana caranya untuk membuat transportasi menjadi lebih sustainable dengan tidak melupakan ketiga pilar transportasi?
1. Berhubungan dengan masyarakat
• Ketersediaan transportasi harus memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan dengan cara-cara yang efektif dan tidak merusak tatanan sosial.
• Mendukung pembangunan yang berorientasi kepada masyarakat seperti menyediakan berbagai pilihan moda transportasi yang nyaman.
• Mengurangi polusi udara dan suara dari transportasi yang sangat mengganggu masyarakat
• Memberikan keamanan dan kenyaman bagi masyarakat.
2. Ekonomi
• Sistem transportasi harus menyediakan layanan efektif dalam biaya dan kapasitas
• Sistem transportasi harus menjadi financial yang terjangkau dalam setiap generasi
• Sistem transportasi harus mendukung aktivitas hidup manusia, sehingga sistem transportasi juga berorientasi terhadap ekonomi berkelanjutan.
3. Lingkungan
• Sistem transportasi harus menggunakan tanah secara efektif dan efisien sehingga tanah yang digunakan lebih sedikit dan tidak berdampak besar terhadap integritas ekosistem.
• Sistem transportasi harus menggunakan sumber-sumber lain yang terbarukan atau sistem yang tak habis-habisnya. Sumber terbarukan ini bisa didapat dengan mendaur ulang bahan yang telah digunakan dalam kendaraan umum atau infrastruktur.
• Menghasilkan sedikit sedikit emisi.

C. Indikator Sustainable Transportation
Sustainable transportation indicator merupakan sebuah perlengkapan yang digunakan untuk menganalisa pengaruh dari objek transportasi terhadap lingkungan serta untuk memeriksa berbagai kemungkinan dan kondisi yang akan terjadi dari penerapan konsep sustainable transportation. Berbagai ahli transportasi telah mencoba membuat daftar perlengkapan dari indikator tersebut sehingga daftar tersebut semakin bervariasi dan bermacam-macam. Indikator ini diperlukan dalam penerapan suatu sistem trasnportasi agar sustainable. Sistem transportasi tersebut harus memperhatikan berbagai indicator yang ada agar bisa bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Selain itu, indikator digunakan untuk mengukur seberapa berhasilkah penerapan sustainable transportation yang ada di suatu wilayah.
Menurut beela (2007:3) indicator dari sustainable transportasi adalah
1. Keamanan perjalanan bagi pengemudi dan penumpang
2. Penggunaan energi oleh moda transportasi
3. Emisi CO2 oleh moda transportasi
4. Pengaruh transportasi terhadap lingkungan sekitar
5. Kesenangan dan kenyaman menggunakan moda transportasi
6. Emisi dari bahan beracun dan bahan kimia berbahaya, polusi udara dikarenakan moda transportasi
7. Guna lahan bagi moda trasnportasi seperti lahan parker
8. Gangguan terhadap wilayah alami oleh moda transportasi atau infrastruktur lainnya.
9. Polusi suara oleh moda trasnportasi.
Semua indikator tersebut harus diperhatikan, misalnya saja keamanan para pengguna moda trasnportasi harus diutamakan. Masyarakat akan senang menggunakan angkutan massa jika keamanan pengguna trasnportasi tersebut lebih terjamin. Berbagai polusi yang disebabkan oleh moda trasnportasi juga harus di minimalkan, baik polusi udara ataupun suara. Polusi ini sama-sama membuat resah masyarakat dan mengganggu kehidupan masyarakat. Banyak penyakit yang diderita masyarakat akibat adanya polusi ini. Hal ini tentunya akan merugikan banyak orang dan harus diatasi. Lingkungan dan tata guna lahan juga tidak kalah pentingnya. Lingkungan tidak boleh menjadi korban dalam penerapan sistem trasnportasi. Lingkungan yang asri dan terjaga harus tetap dipertahankan agar adanya keseimbangan antara lingkungan, tata guna lahan dan trasnportasi.
Disamping indikator tersebut, terdapat pendapat lain mengenai indicator sustainable transportation yang berbeda. Menurut heanue (1997) pada the national science and thecnology council transportation R&D committee menyatakan bahwa indikator dari sustainable transportation adalah sebagai berikut:
a. Tembusan pasar dalam bahan bakar minyak tanah
b. Emisi transportasi dalam efek rumah kaca
c. Kualitas air, jumlah spesies berbahaya, perlindungan minyak dan seterusnya
d. Ukuran tanah dalam merevitalisasi wilayah perkotaan dan memperoleh kembali tanah lapang atau bagian tanah kosong.
e. Perjalan melakukan dan menempuh perjalanan
f. Kepercayaan pengguna sepeda
g. Akses untuk mendapatkan pekerjaan dan pelayanan untuk transportasi merugikan atau tidak.
h. Populasi dalam wilayah yang mencapai standart kualitas atmosfir nasional.
Beberapa daftar indicator tersebut hanya dilihat berdasarkan aspek perjalanan dan trasnportasinya. Namun untuk indikator yang lebih mengarah kepada individu pengguna transportasinya kurang dijelaskan sehingga pendapat ini kurang optimal untuk indikator sustainable transportation pada masa sekarang. Litman (2003) menyebutkan beberapa indicator yang lebih jelas dan rinci daripada indicator yang dijelaskan oleh ahli sebelumnya, yaitu
a. Conventional transport indicators
Kualitas indikator transportasi harus berdasarkan kondisi lalu-lintas kendaraan, seperti
• roadway level-of-service
• parking convenience and price
• crash rates per vehicle mile
Jika semua indikator tersebut lebih ditingkatkan atau semakin tinggi maka semakin baik kualitas dari transportasi dan semakin mendekati kearah sustainable transportation .
b. Simple sustainability indicators
Untuk melengkapi analisis sustainable transport dan untuk mengevaluasi system transportasi menggunakan beberapa data yang ada, seperti:
• Pemakaian bahan bakar fosil dan emisi
• Emisi kendaraan/polusi
• Jarak permil kendaraan motor perkapita
• Mode split
• Kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan luka-luka dan kematian
• Penggunaan lahan untuk transportasi
• Kondisi estetis jalan raya
Data-data tersebut merupakan faktor penting dalam keberhasilan sustainable transportation. Untuk pemakaian bahan bakar fosil, emisi kendaraan, jarak permil, kecelakaan lalu lintas, penggunaan lahan seharusnya harus di kurangi dengan berbagai cara yang berorientasi kepada masyarakat, lingkungan dan ekonomi. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut bisa diatasi dengan berbgaia cara, salah satunya yaitu alternative bahan bakar kendaraan yang non-fosil. Sedangkan untuk mode split dan kondisi jalan raya harus terus ditingkatkan agar transportasi lebih berjalan dengan baik.
c. Comprehensive sustainable transportation indicators
Indicator ini lebih kompleks dan meliputi tiga pilar transportasi, yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. Indikator tersebut seperti
 Ekonomi
• Waktu perjalanan rata-rata
• Aksesibiltas ke tempat komersial.
• Implementasi kebijakan dan perencanaan pelatihan
• Moda split: perjalanan dengan, jalan kaki, bersepeda,dan kendaraan umum.
• Bagian pengeluaran rumah tangga untuk transportasi pribadi sebesar 20% harus lebih rendah
• Biaya untuk pengeluaran fasilitas jalan, pelayanan kendaraan dan fasilitas parkir
• Kecepatan dan kemampuan angkutan
• Hubungan antara institusi yang menangani transportasi dengan para investasi.
Sosial
• Keamanan
• Tingkat keamanan
• Kesehatan:berjalan teratur dan bersepeda
• Aktivitas transportasi dapat meningkatkan kualitas masyarakat lokal
• Kualitas aksesibilitas pelayanan transportasi non-motorised
• Kulitas fasilitas transport dan meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat cacat
• Tingkat pengaruh transportasi tergantung kepada modeling dan perencanaan transportasi
• Keterlibatan masyarakat dalam penentuan keputusan perencanaan transportasi
Lingkungan
• Konsumsi bahan bakar fosil perkapita dan emisi dari CO2 dan emisi dari perubahan iklim lainnya.
• Emisi udara percapita
• Polusi air
• Pengaruh tata guna lahan
• Perlindungan habitat
• Efisiensi sumber daya
Semua indicator tersebut lebih rinci daripada indicator yang diungkapkan oleh para ahli sebelumnya. Litman (2003) membedakan indicator ke tiga bagian penting dan membahas secara rinci setiap bagian. Semua indicator tersebut bisa mengevaluasi konsep sustainable transportasi. Indicator yang membawa dampak buruk seperti emisi kendaraan maka harus dikurangi. Sedangkan indicator yang mendatangkan keuntungan bagi masyarakat maka harus ditingkatkan seperti fasilitas umum.

D. Review Studi Kasus
Bogota yang merupakan salah satu Negara sedang berkembang memang telah berhasil membuat Negara-negara lain melirik transportasi planning yang berhasil diterapkan di negara tersebut . Permasalahan yang cukup kompleks seperti kemiskinan, gizi, kekurangan air bersih di Bogota tidak mengurangi keberanian pemerintah bogota untuk melakukan suatu radikal planning dalam sistem trasnportasinya. Radikal planning yang mereka lakukan adalah dengan membuat angkutan umum sejenis bus (Bus Rapid Transit) yang biasa disebut dengan Transmilenio yang pada awalnya mendapat banyak tentangan dari masyarakat terutama masyarakat yang memiliki kendaraan pribadi karena jalur mereka sebagian di ambil untuk digunakan sebagai jalur transmilenio. Pemerintah bogota telah berhasil membuat BRT ini dengan mendatangkan keuntungan yang cukup besar dan bahkan bisa membayar pengentasan permasalahan yang ada di Bogota.
Transmilenio yang sangat efektif diterapkan di bogota ini merupakan alternatif pemilihan moda pada konsep sustainable transportation yang tepat. Jika dilihat dari keadaan bogota yang masyarakatnya cukup banyak berada di garis kemiskinan penggunaan BRT ini memang lebih baik daripada pemilihan moda rel KA yang memakan biaya lebih banyak lagi. Penerapan moda transportasi ini memiliki banyak keuntungan di bandingkan penggunaan kereta api yang sering digunakan di Negara-negara maju. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain:
a. Lebih banyak mengangkut penumpang mengingat panjang transmilenio yang cukup panjang serta bisa beberapa kali lebih banyak mengangkut penumpang daripada Kereta api.
b. Biaya perjalanan yang lebih murah.
c. Biaya pengadaan dan pengoperasian BRT lebih murah daripada KA terutaa KA bawah tanah.
d. Mengurangi kesenjangan sosial, karena pengguna kendaraan pribadi lambat laun akan merasa terusik dengan adanya BRT di dekat jalur kendaraan pribadi mereka, sehingga mereka lambat laun akan mengikuti kebiasaan menggunakan
Jika dilihat dari keadaan dan permasalahan di Bogota dengan di Indonesia, sebenarnya kedua Negara tersebut tidak jauh berbeda. Konsep trasnmilenio yang diterapkan di bogota juga sudah mulai diterapkan di Indonesia, yaitu jika di Indonesia dinamakan Busway. Namun, meskipun upaya menuju konsep sustainable transportation di Indonesia telah dilakukan, namun sampai saat ini belum menunjukan keuntungan yang signifikan dan permasalahan-permasalahn transportasi yang mendasar seperi kemacetan tetap ada. Jadi, yang menjadi pertanyaan besar saat ini adalah mengapa BRT di bogota berhasil mendatangkan keuntungan bagi Negara tersebut sedangkan di Indonesia tidak. Alasan yang paling mendasar dikarenakan masyarakat di bogota ternyata sangat antusias menggunakan transmilenio setelah diadakan, namun di masyarakat Indonesia kurang berminat dalam menggunakan busway.
Fenomena ini bisa timbul karena ada perbedaan di penerapan atau pengoperasian kedua BRT ini. Perbedaan tersebut antara lain:
Busway Di Indonesia Tranmilenio Di Bogota
Hanya bus tunggal Berupa bus gandeng
Hanya terdapat dua pintu masuk yang menyebabkan desakan antar penumpang jika akan memasuki busway Terdapat tiga pintu masuk bus untuk mengurangi desakan penumpang yang akan masuk
Tinggi halte lebih rendah daripada bus Tinggi halte disamakan dengan bus sehingga mempermudah menaiki bus
Belum ada akses untuk penyandang cacat Dapat akses untung para penyandang cacat
Hanya terdapat satu rute Terdapat rute ekspress dan biasa
Busway berada di sisi jalan Bus transmilenio beroperasi di tengan jalan bukan disisi jalan, sehingga tidak menghalangi barang masuk dan keluar

Daftar Pustaka
.
K, Beela S. 2007. Changing definition of sustainable transportation. (www.enhr2007rotterdam.nl) (diakses online 25 maret 2010)
Detr . 1998. Sustainable development: Opportunities for change. London: Department of the
Environment, Transport and the Regions.
Miro, Fidel. 2002. Perencanaan Transportasi. Jakarta: Erlangga
Litman, T. (2003) Sustainable transportation indicators. Victoria Transport Policy Institute,
Victoria, BC, Canada. (http://www.vtpi.org) (diakses tanggal 25 maret 2010).
Ryan, S., Throgmorton, J.A. (2003) Sustainable transportation and land development on the
Periphery. London:Transport and Environment
NN. 2002. Definition And Vision Of Sustainable Transportation. Canada: The centre for sustainable transport
NN. 2007. Sustainable Urban transport in Asia. Cina: ICIA
World Bank. 1996. Sustainable Transport: Priorities for Policy Reform. Development in Practice Series.
Washington, DC: World Bank.





2 komentar: